Rangkaian Audio Mixer 10 Channel Tanpa Tone Control

Rangkaian audio mixer 10 channel disini merupakan rangkaian yang berbeda dari mixer audio pada umumnya. Yakni tanpa kehadiran tone control yang disematkan didalamnya. Namun begitu, konstruksi audio mixer ini menjadi jauh lebih sederhana.

Audio mixer merupakan sebuah rangkaian elektronika atau perangkat elektronika yang digunakan untuk mencampurkan berbagai sinyal menjadi satu keluaran (output) saja. Jadi prinsip kerja audio mixer adalah untuk mencampurkan beberapa sinyal audio.

Jika Anda menginginkan rangkaian audio mixer yang kompleks seperti untuk keperluan mixing studio, maka lupakan rangkaian ini. Karena audio mixer pada postingan kali ini hanya berdasarkan prinsip kerja pencampuran beberapa sinyal dengan operasional amplifier (Op-Amp).

Anda dapat melakukan pengembangan lebih lanjut dengan menggunakan audio mixer 10 channel ini. Karena sebetulnya rangkaian mixer ini fleksibel untuk berbagai rancangan audio lainnya. Antara lain dengan menambahkan pengatur nada (tone control), audio echo, atau pre-amp mic jika menginginkan input dari mic, VU led sebagai indikator sinyal musik, dan lain sebagainya.

Audio Mixer 10 Channel ini memiliki berbagai fungsi untuk keperluan seperti sound system karaoke untuk rumah. Selain itu untuk keperluan karaoke outdoor juga dapat menggunakan audio mixer ini.

Meskipun audio mixer ini hanya bekerja mengandalkan prinsip pencampuran sinyal audio, namun cukup tangguh untuk digunakan pada home recording sederhana yang memerlukan banyak input. Misalnya input dari beberapa gitar, drup elektrik, dan organ.

Rangkaian Audio mixer 10 channel

Jika diurai menjadi diagram blok, Audio mixer ini terdiri dari dua bagian, yaitu penguat bagian channel input dan penguat bagian master volume. Berikut ini adalah rangkaian audio mixer 10 channel.

rangkaian audio mixer 10 channel
Rangkaian audio mixer 10 channel.

Pada rangkaian diatas, setiap input channel diperkuat dengan IC Op-Amp yang dirangkai dengan input negatif, artinya pada penguat pertama ini, sinyal input akan memiliki fasa yang terbalik terhadap outputnya.

Selain sebagai penguat pertama, Op-Amp di setiap channel berfungsi sebagai penyangga (buffer) yang ketika volume setiap channel diubah-ubah, maka tidak akan mempengaruhi channel yang lainnya.

Setelah sinyal input diperkuat oleh penguat pertama Op-Amp, sinyal audio dikuatkan lagi oleh sebuah Op-Amp. IC6A merupakan rangkaian audio mixer yang “sebenarnya”. Agar semua sinyal dapat dicampur, maka setiap masukan dari IC 6A harus diberikan resistor yang terhubung secara seri. VR11 berfungsi sebagai master volume, yang mana ketika potensiometer ini diubah-ubah, akan berpengaruh terhadap semua channel input.

rangkaian audio mixer 10 channel
Contoh Hasil jadi rangkaian audio mixer 10 channel. Sumber: https://www.facebook.com/purwanto.apriana
rangkaian audio mixer 10 channel
Contoh Hasil jadi rangkaian audio mixer 10 channel. Sumber: https://www.facebook.com/purwanto.apriana
rangkaian audio mixer 10 channel
Contoh Hasil jadi rangkaian audio mixer 10 channel. Sumber: https://www.facebook.com/purwanto.apriana

*Disclaimer: Contoh hasil jadi audio mixer diatas hanyalah ilustrasi untuk menunjukan bentuk dan konstruksinya. Hasil bantuk jadi dapat dijadikan referensi dan dikembangkan lebih lanjut. Oleh karena itu, rangkaian yang digunakan bisa saja terdapat perbedaan.

Dalam merakit audio mixer ini, diperlukan catu daya yang teregulasi dengan baik untuk mencegah timbulnya suara dengung ataupun noise. Berbicara tentang noise, untuk meminimalisir noise berupa desis, gunakanlah resistor yang berkualitas baik dengan toleransi 1% atau memiliki 5 pita warna.

Agar rangkaian audio mixer dapat bekerja dengan baik, Anda tidak memerlukan catu daya yang kompleks. Cukup dengan menambahkan filter catu daya dengan nilai kapasitor 4700uF atau lebih besar, dan sebuah IC regulator 7815. Karena rangkaian mixer ini membutuhkan tegangan Vcc sebesar +15VDC. Meskipun begitu, rangkaian hanya membutuhkan arus tidak lebih dari 1 Amper saja.

Tulis Komentar